JAKARTA ||Lintangnusantara.com – Perayaan Idul Fitri yang seharusnya menjadi puncak kemenangan dan kebahagiaan, tahun ini dirasakan berbeda oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Di balik hiruk-pikuk mudik dan gemerlap lampu kota, terselip cerita keprihatinan dari kalangan menengah ke bawah yang harus memutar otak demi menjaga tradisi di tengah melambungnya biaya hidup.
Realita di Pasar Rakyat
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan penurunan daya beli yang cukup signifikan. Meski kerumunan tetap terlihat, volume belanja masyarakat menurun drastis.
"Tahun lalu biasanya orang beli daging sapi 2-3 kilogram, sekarang rata-rata hanya setengah sampai satu kilogram saja. Banyak yang beralih ke ayam atau telur karena harganya lebih terjangkau," ujar Rohman, seorang pedagang daging di Pasar Induk.
Fenomena ini mengonfirmasi bahwa masyarakat kelas menengah bawah kini lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok daripada belanja konsumtif seperti baju baru atau perabotan rumah tangga.
Tekanan Harga Pokok dan Daya Beli
Pakar ekonomi menyebutkan bahwa kombinasi antara inflasi pangan yang persisten dan belum pulihnya pendapatan masyarakat secara penuh menjadi pemicu utama. Beberapa faktor yang dirasakan sangat membebani antara lain:
- Harga Beras dan Bumbu Dapur: Kenaikan harga beras yang sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir meninggalkan "luka" pada anggaran rumah tangga.
- Biaya Transportasi: Meski ada program mudik gratis, kenaikan tarif transportasi umum nonsubsidi tetap menyedot THR (Tunjangan Hari Raya) yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain.
- Fenomena "Makan Tabungan": Banyak keluarga menengah bawah yang terpaksa merogoh tabungan atau bahkan menggunakan pinjaman pendek demi bisa merayakan Lebaran dengan layak di kampung halaman.
Kesederhanaan Menjadi Pilihan
Di platform media sosial, narasi mengenai "Lebaran Sederhana" menjadi tren. Bukan karena keinginan, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap realita ekonomi. Banyak warga yang memilih untuk tidak membeli baju baru dan lebih fokus pada hidangan khas Lebaran secukupnya untuk menjamu silaturahmi keluarga.
"Yang penting bisa kumpul dan maaf-maafan. Kalau soal baju atau makanan mewah, itu nomor sekian. Kondisinya memang lagi sulit, kerjaan juga lagi tidak pasti," ungkap Siti, seorang buruh pabrik yang tetap memaksakan mudik meski dengan anggaran terbatas.
Harapan ke Depan
Situasi memprihatinkan ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera mengintervensi harga pangan pasca-Lebaran dan memperkuat jaring pengaman sosial. Masyarakat berharap agar stabilitas harga dapat segera terwujud sehingga beban ekonomi tidak semakin mencekik di hari-hari biasa setelah perayaan usai.
Lebaran tahun ini menjadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah masih sangat rentan terhadap guncangan harga global dan domestik. Kesederhanaan yang terlihat tahun ini bukan sekadar tren, melainkan cerminan perjuangan bertahan hidup di tengah ketidakpastian.
Redaksi : Lintangnusantara.
Komentar
Posting Komentar